Random
Haiii balik lagi gue mengisi blog gue yang udah hampir
sebulanan eh ga hampir deng tapi emang udah sebulanan gue tinggal heheh. Dan
sekarang gue mau menuliskan banyak hal disini. Jadi, hal yang mau gue tulis
adalah, mengenai kasus yang lagi gue alami di beberapa bulan belakangan. Jadi,
gue lagi berada di puncak-puncaknya emosi dan ego gue bersatu.
Gue ceritain asal mula gue mengalami hal seperti ini sampe hal
ini menguras pikiran gue berhari-hari, bahkan bertahan sampe berbulan-bulan.
Nah gue sebenarnya adalah manusia yang tergolong kedalam salah satu 3 jenis
kepribadian yang ada di muka bumi, yakni introvert. Lebih tepatnya sih gue
seorang ISTJ. Hasil ini gue dapet setelah gue mengikuti tes MBTI berulang-ulang
kali, dan yang paling mendekati pada diri gue adalah ISTJ. Jadi, kalo kalian
penasaran apa ituISTJ, bisa googling dan baca-baca aja mengenai ISTJ siapatau
kita sama hehehe.
Nah, jadi karna gue tergolong introvert, umumnya orang
introvert itu lebih tertutup dalam segala hal, lebih menikmati kesunyian dan
kesendirian, dan jauh dari kata “anak rame”. Karena inilah, sebenarnya yang
mendasari kenapa gue canggung berhadapan sama orang-orang terutama orang asing.
Mungkin kalo kalian pernah papasan atau ketemu gue secara gak sengaja, kalian
boleh perhatikan bagaimana cara gue berjalan, biasanya gue akan lebih sering
nunduk ketimbang menegakkan wajah. Kenapa? Karna gue paling anti melihat
tatapan mata orang lain. Ga Cuma itu, gue juga paling gabisa mengungkapkan
perasaan gue di depan orang-orang, apalagi kek cewek-cewek pada umumnya kalo
udah bicara mengenai lawan jenis atau apalah, pasti bakalan lebih menye-menye
(manja) nadanya. Nah beda nih sama gue, gue biasanya lebih datar karna gue
susah mengungkapkan ekspresi gue saat itu.
Ditambah gue yang selalu gugupan kalo berbicara dengan orang
asing atau orang yang gue gapernah berbicara sebelumnya. Gausah berbicara,
menatap matanya aja gue gabisa. Biasanya ketika ngobrol dengan seseorang, gue
pasti harus menutupi bagian wajah gue entah itu dengan sapu tangan,tissue,
tangan ataupun kerudung. Ya intinya yang bisa menutupi detail kegugupan gue.
Ga cuma itu, ketika gue harus kembali ke kosan, gue gapernah
bisa fokus dan berkonsentrasi dengan baik. Kenapa? Karna gue setiap saat harus
mendengar keributan di baik itu siang maupun malem. Ga cuma itu, belajar aja
gue harus ngalah, karena gue ga sendirian dikamar. Belum lagi, tuntutan tugas
ataupun kewajiban dikampus yang kadang buat gue stress sendiri, karna gue
merasa gue berjuang sendirian tapi orang-orang gaperduli. Yang buat gue sebel
lagi adalah, ketika ada tugas kelompok, selalu aja gue yang terlalu baik buat
ngerjain, sampe kadang gue minta tolong pun belum tentu digubris. Terkadang gue
mikir, eksistensi apa yang gue cari, atau apa eksistensi apa yang mereka cari.
Itu semua yang kadang membuat gue lelah. Yang menguras jam tidur gue sampe
kantung mata gue makin hari makin membesar dan terus membesar.
Dan hal ini semakin menyakitkan pikiran gue apalagi sekarang
gue sedang berada di usia yang mulai dewasa yakni 21 tahun. Sebagai cewek
dengan usia segitu, tentunya bisa mengontrol diri, mengontrol kepribadian, ego
maupun ucapan. Dan itu yang sekarang lagi pengen gue terapin ke diri gue. Karna
gue sadar, gue harus mampu berkamuflase untuk memperoleh banyak pelukan dari
orang-orang disekeliling gue. Bukan kamuflase buruk, tapi kamuflase untuk
menjadi orang yang lebih ekstrovert. Sejujurnya, itu terlalu memaksa karna hal
itu juga buat gue ga kuat. Dan hal itu juga yang buat gue ga mengenali
kepribadian gue sendiri. Kasus ini, pernah gue tulis di salah satu higlighht akun
wa gue, dan disana orang-orang langsung pada mengomentari hal yang gue tulis.
Disitu gue minta saran untuk survive dan banyak dari mereka menyuruh gue untuk
lebih istigfar, ataupun berdoa. Well, sebagai muslim emang kita harus dekat
dengan pencipta kita. Itu semua udah menjadi kewajiban kita. Ada juga yang
mengatakan siap membantu gue kalo gue ditimpa masalah dan menyarankan gue
berhenti dari kepura-puraan kalo gue sanggup menjadi orang yang bertolak
belakang kepribadian.
Tapi, ada lagi yang membalas dengan gue harus mampu memaafkan
kesalahan orang lain. Iya, gue tau mungkin gue punya kesalahan besar ke
orang-orang ataupun sebaliknya. Kalo gue punya salah, gue berani meminta maaf
walaupun itu kecil. Dan untuk orang yang berbuat salah, gue bener-bener udah
maafin kesalahan kalian, tapi gue tetep ingat. Dan kalo katanya yang gue alami
sekarang adalah bentuk “karma” karna gue ga memaafkan, gue rada kurang setuju.
Kenapa, karna ini bukan karma. Ini mental illness yang harus bisa gue rubah.
Kalo ini wujud dari sebuah karma, mungkin detik ini gue terus mengutuk diri.
Tapi, ini bukan karma. Karna lebih dari apapun, gue udah mampu mengikhlaskan
kesalahan orang ke gue. Mau dia punya utang sama gue, dia buang muka ketika
ketemu gue, dia diem aja ketika tatapan sama gue, gue udah maafin dan ya, gue
udah mencoba biasa aja dan lebih bodoamat dengan apa yang akan dia perbuat
dikemudian hari.
Komentar
Posting Komentar