Beropini 18 Desember

  Tulisan siang ini mungkin agak random. Gue gatau harus nulis apa siang ini tapi yang jelas gue mau menuangkan apa yang ada di fikiran gue dan apa yang lagi gue rasakan. 

  Hari ini tanggal 18 desember 2017, dan besok di univ gue ada pemilihan raya Presiden Mahasiswa. Disini gue gaakan tulis nama-nama calonnya, tapi gue mau menuangkan opini-opini gue tentang pemira di tahun ini. Pemira tahun ini bakalan lebih seru, karna calon-calonnya merupakan kader terbaik di fakultasnya dan semuanya berprestasi di bidangnya. Gue salut coy, ga cuma ngandalin wajah tapi juga wawasan. Tapi, ada satu yang mau gue bahas disini, ya semoga gue bisa lebih berhati-hati dalam menuliskannya. Insyaallah. 

   Gue bukan anak politik, yang bakal lebih baik dalam beropini mengenai hal-hal seperti ini, cuma gue lebih pengen leluasa dengan pilihan hati gue, ga mau salah pilih juga,dan gue juga gabisa dipaksa. Jadi, gue sekarang lagi mengalami yang namanya jadi korban kampanye. Sampe hari ini, gue dihasut buat pilih calon nomer tertentu yang katanya, lebih paham masalah ini itu. Berwawawasan luas, berprestasi semasa SMA, dan segala bentuk keunggulan-keunggulan lainnya yang gue denger tentang si calon ini. Tapi, sayangnya hati gue berkata lain, gue ga begitu tertarik.

   Ibaratkan gini, kaya lo mau beli sepatu, Itu sepatu keliatannya bagus, bakalan tahan lama, tapi harganya mahal dan disebelah sepatu itu ada sepatu yang lebih murah dengan kualitas serupa. Lo pasti bakalan langsung mikir 2 kali buat ambil sepatu pertama. Ya sama, sama kayak apa yang gue rasain dan gue fikirin sekarang. Kalo gue ga sreg sama calonnya itu, ya pastinya gue gabakalan pilih yang itu. Gue pasti bakalan pilih yang lain. Yang gue ga habis fikir waktu gue ikut acara kajian agama di fakultas lain, gue yang istilahnya baru belajar buat mendidik diri gue ini untuk lebih paham agama gue, tapi malah dicekokin politik Pemira disela-sela akhir kajian. Gue yang ga ngerti apa-apa, siang itu cuma merasa terintimidasi. Apalagi di dalam mushola itu isinya  notabene anak-anak kerudung panjang. Gue ga mau rasis cuma gue ngerasa siang itu gue yang di rasiskan! Masalah kerudung, mereka ga terlalu mempermasalahkan walaupun kerudung gue paris dan menerawang. Yang jadi masalah di guenya sekarang adalah gue udah kayak penyusup yang masuk ke suatu kampung orang buat cari tau sesuatu. Padahal ya gue dateng karna kemauan gue sendiri dan kehendak hati gue. Bukan karna atas latar belakang gue anak dakwah atau apa. 

   Gue gamau tulis lagi apa yang gue liat siang itu. Cuma gue mau menegaskan sekali lagi disini, "Gue bener-bener gabisa dipaksa" Kita hidup di negara demokratis. Mahasiswa di seluruh Indonesia juga menyerukan buat demokratis. Tapi, kenapa disaat mau jalannya pemira gini malah dicekokin hal yang tidak demokratis? 

   Entahlah kalo emang pilihan gue atas calon gue nanti tidak baik, tidak sesuai harapan, yang jelas gue bakalan tetap bangga. Bangga karna gue berhasil mempertanggungjawabkan pilihan hati gue, berhasil memerdekakan hak suara gue tanpa ada paksaan, dan kejujuran hati gue pula. Ketimbang gue harus pura-pura karna terikut arus teman yang memliih calon nomer tertentu. Well, disini gue ga mau menyudutkan pihak-pihak tersebut gue cuma mau mempertegas bahwa gue hanya ingin pemira ini tidak ada kecurangan maupun paksaan dari pihak manapun dalam mengkampanye-kan calonnya. 

   Harapan gue, buat siapapun calon yang terpilih, kelak bisa memberi perubahan kepada univ gue kedepannya. Semoga saja pilihan gue, lo dan kalian semua tidak salah. Semoga lo masih bisa memerdekakan hak suara lo tanpa ada rasa paksaan  :)

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer